Tumbuh Kembang Tumbuh KembangTopik harian dengan konteks dan sudut pandang yang jelas.
parenting

Tantrum pada Balita: Antara Pengertian dan Kewarasan Orangtua

Pengalaman orangtua di Sangatta menghadapi tantrum balita. Kenali pemicu, cara merespons, dan kapan perlu waspada. Bukan sekadar teori.

4 May 2026 · 3 menit baca · oleh Hardi Kartono Pratama
Tantrum pada Balita: Antara Pengertian dan Kewarasan Orangtua

Pernah suatu sore di teras rumah kontrakan di Sangatta, anak saya yang baru genap dua tahun tiba-tiba berguling-guling di lantai sambil menjerit. Penyebabnya sepele: saya memberi gelas biru, padahal ia ingin yang merah. Saya sempat diam seribu bahasa. Bagi saya yang belum punya pengalaman menjadi ibu, momen itu terasa seperti pertanda ada yang salah. Tapi setelah bertanya ke sesama ibu di posyandu dan membaca dari beberapa sumber, saya sadar: tantrum bukan akhir dari kewarasan. Ia bagian dari tumbuh kembang balita yang wajar.

Kenali Pemicu Tantrum pada Anak

Tantrum bukan berarti anak nakal. Otak balita belum bisa meregulasi emosi seperti orang dewasa. Rasa frustrasi muncul karena keinginan tidak terpenuhi, lelah, lapar, atau sekadar bingung harus bilang apa. Saya belajar bahwa pemicu paling sering adalah transisi. Misalnya minta mainan di toko lalu disuruh pulang. Anak belum paham konsep waktu. Di Sangatta yang panas, menunggu di angkutan umum bisa jadi pemicu besar. Satu trik yang saya dapat dari buku pengasuhan: antisipasi pemicu dengan menjelaskan jadwal secara sederhana. Misalnya, "Nanti setelah mandi, kita beli roti, lalu pulang." Anak punya bayangan, meski kadarnya masih abstrak.

Langkah Sederhana yang Pernah Saya Coba

Saya bukan psikolog. Tapi dari pengalaman, lebih sering menang jika saya tetap tenang dulu. Begitu anak mulai mengamuk, saya lakukan hal ini. Pertama, turunkan badan setinggi matanya agar saya tidak tampak mengancam. Kedua, ucapkan perasaan yang ia rasakan, misal "Adik marah karena gelasnya merah, ya". Ketiga, biarkan selesai dulu tanpa banyak instruksi. Menurut dr. Soedjatmiko dari IDAI, pelukan bisa membantu asalkan anak sudah mulai reda. Saya juga bawa mainan kecil atau camilan sebagai pengalih. Tapi yang paling penting adalah konsisten. Kalau saya sudah bilang tidak, tidak akan saya ubah hanya karena tangis. Anak belajar bahwa amuk tidak mengubah keputusan saya. Tentu ada hari di mana saya terkecoh dan menyerah, lalu konsekuensinya tantrum makin sering. Pelajaran pahit.

Kapan Perlu Mencari Bantuan?

Tantrum normal terjadi sejak usia 1–3 tahun. Frekuensi menurun setelah anak bisa bicara lebih lancar. Namun, ada tanda yang perlu diwaspadai: tantrum berlangsung lebih dari 15 menit hampir setiap hari, melukai diri sendiri, atau sangat agresif hingga sulit ditenangkan oleh siapa pun. Jika itu terjadi, konsultasi ke dokter anak atau psikolog tumbuh kembang adalah langkah bijak. Jangan malu minta bantuan. Saya pernah ragu, tapi ternyata diskusi dengan ahli justru memberi panduan yang pas untuk karakter anak saya. Komunitas ibu di sekitar juga bisa jadi tempat curhat. Di Sangatta ada grup WA posyandu yang cukup membantu.

Menghadapi tantrum adalah proses belajar dua sisi: anak belajar mengelola emosi, orangtua belajar bersabar dan membaca kebutuhan. Tidak ada ibu yang sempurna, dan tidak apa-apa jika kadang kita ikut menangis di kamar mandi. Yang penting kita terus berusaha menemani tumbuh kembang mereka dengan kasih sayang dan nalar.

Ibu menenangkan anak tantrum di ruang tamu Anak balita bermain di halaman rumah

Tag: #tumbuh kembang #tantrum #balita #pengasuhan anak